- Buka Bersama di PC NU Kepahiang
- Safari Romadhan di Masjid Taqwa Daspetah I
- ZAKAT FITRAH
- Digdaya NU (Digital Data Raya NU)
- PC NU Kepahiang melaksanakan safari Romadhan ke Desa Tapak Gedung
- Digjaya NU
- 7 (TUJUH) HAL YANG SECARA TIDAK DISADARI DAPAT MEMBATALKAN PUASA KITA :
- Kegiatan Persiapan Romadhan
- Sejarah santri
- Tradisi Sowan
Makna Lambang NU dan profil KH. Hasyim Asy\'ari

1. Rahasia di Balik Lambang NU
Lambang NU ini bukan hasil desain grafis biasa, melainkan hasil "langit". KH. Ridwan Abdullah membuatnya setelah melakukan salat Istikharah.
Bola Dunia: Melambangkan tempat manusia hidup dan beramal. Ini menunjukkan visi NU yang universal, bukan cuma untuk Indonesia tapi dunia.
Tali yang Melingkar: Melambangkan persaudaraan (ukhuwah). Perhatikan kalau ikatannya longgar, itu simbol bahwa NU bersifat fleksibel/luwes namun tetap menyatu.
Baca Lainnya :
9 Bintang: * Satu bintang paling besar di tengah atas: Melambangkan Nabi Muhammad SAW.
Empat bintang di kanan-kiri atas: Melambangkan Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali).
Empat bintang di bawah: Melambangkan Empat Mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi'i, Hambali).
Total 9 bintang juga sering dikaitkan dengan jumlah Wali Songo yang menyebarkan Islam di Nusantara.
Tulisan Arab: Membentang dari kanan ke kiri, menegaskan identitas Islam yang kuat.
2. Sosok KH. Hasyim Asy’ari (Hadratussyaikh)
Beliau bukan hanya pendiri, tapi magnet utama bagi para ulama di tanah jawa. Ada beberapa fakta menarik tentang beliau:
Gelar Hadratussyaikh: Artinya "Maha Guru". Gelar ini diberikan karena beliau hafal ribuan Hadis Bukhari dan Muslim, sesuatu yang sangat jarang di masa itu.
Pondok Pesantren Tebuireng: Beliau mendirikan Tebuireng di Jombang yang awalnya adalah daerah sarang maksiat dan perampok, lalu diubah menjadi pusat ilmu pengetahuan.
Nasionalis Sejati: Beliau pernah ditangkap Jepang karena menolak melakukan Seikerei (membungkuk ke arah matahari terbit karena dianggap syirik). Beliau juga yang mengeluarkan fatwa bahwa nasionalisme adalah bagian dari iman (Hubbul Wathan Minal Iman).
3. Khittah 1926: Kembali ke Jati Diri
Satu poin sejarah yang sangat penting adalah tahun 1984 (Muktamar Situbondo). Setelah sempat menjadi partai politik di era 50-an, NU di bawah pimpinan Gus Dur dan KH. Achmad Siddiq memutuskan untuk:
Keluar dari politik praktis.
Kembali ke fungsi awal sebagai organisasi dakwah dan sosial.
Menerima Pancasila sebagai asas tunggal negara (NU adalah organisasi Islam pertama yang melakukan ini).
4. Tradisi Unik NU
NU dikenal dengan istilah "Kaum Sarungan". Beberapa tradisi yang dijaga hingga kini antara lain:
Tahlilan & Bahtsul Masa'il: Diskusi hukum Islam yang sangat dalam untuk menjawab masalah kekinian.
Manakiban: Membaca riwayat hidup orang saleh sebagai motivasi.
Ziarah Kubur: Sebagai pengingat kematian sekaligus menghormati leluhur.








